jangan salah memilih

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له من يضلل فلا هاديله، وأشهد أن لا إلـه إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له من يضلل فلا هاديله، وأشهد أن لا إلـه إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله.

 

Segala puji bagi Allah, kita memujinya, memohon pertolongan dan ampunan kepadaNya kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita, barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan Allah. يأيها الذين ءامنوا اتقوا الله حق تقاته، ولاتموتن إلاوأنتم مسلمون۝ “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 102) يأيهاالناس اتقواربكم الذى خلقكم من نفس وحدة وخلق منهازوجها وبث منهمارجالاكثيرا ونساءۚ واتقوا الله الذى تساءلون به والأرحامۚ إن الله كان عليكم رقيبا۝ “Wahai manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripadanya keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) NamaNya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silahturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa’ :1) يأيهاالذين ءامنوا اتقوا الله وقولوقولاسديدا۝ يصلح لكم أعملكم ويغفرلكم ذنوبكمۗ ومن يطع الله ورسوله، فقدفازفوزاعظيما۝ “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu sosa-dosamu dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzaab : 70-71) Amma ba’du : فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشرالأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة فيالنار. “Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dalam agama, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu ditempatnya di Neraka.” (1). Khutbah ini dinamakan khutbatul haajah, yaitu khutbah pembuka yang biasa dipergunakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk mengawali setiap majelisnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga mengajarkan khutbah ini kepada para Sahabatnya. Khutbah ini diriwayatkan dari enam Sahabat Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam . Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 1097, 2118), an-Nasa-I (III/104-105), at-Tirmidzi (no. 1105), Ibnu Majah (no. 1892), al-Hakim (II/182-183), ath-Thayalisi (no. 336), Abu Ya’la (no. 5211), ad-Darimi (II/142) dan al-Baihaqi (III/214, VII/146), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini shahih. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Agama itu nasehat! Kami bertanya : “Bagi siapa? Rasul menjawab : Bagi Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan bagi segenap kaum muslimin. (HR. Muslim (II/37 an-Nawawi) dan lainnya dari hadits Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhu) ify;”>Allah Ta’ala berfirman : “Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Qs. Al-‘Ashr : 1-3) Saudariku yang semoga selalu dalam perlindungan Allah Ta’ala. Pada kesempatan kali ini, saya akan menuliskan beberapa nasehat agar kita termasuk orang yang selalu mau merendahkan hati untuk menerima nasehat orang lain. Mungkin telah banyak nasehat dari saudari-saudari kita tentang cinta atau mungkin tentang bagaimana memilih calon suami. Telah banyak juga kitab para ulama yang membahas tentang tata cara nikah. Namun perlu diingat wahai saudariku sekalian, pernahkah kita berusaha memahami seorang laki-laki yang benar-benar mulia akhlaknya? Pernahkan kita merenung bahwa yang akan kita pilih nanti yang baiknya akhlaknya? Mungkin sebagian dari kita telah paham bagaimana akhlak yang baik itu, akan tetapi jarang dari kita yang dapat mengamalkannya. Wallahu a’lam. Wahai saudariku, taukah dirimu pertama kali orang akan melihat dzahir kita dan bukan apa yang ada di dalam diri kita. Cara bicara kita dan bagaimana adab kita. Seorang laki-laki yang mungkin sudah lama mengaji atau telah mampu baca kitab dengan ba hasa arab belum tentu laki-laki itu memiliki akhlak yang mulia. Padahal sesungguhnya antara aqidah dan akhlak terdapat hubungan yang sangat kuat. Karena akhlak yang baik sebagai bukti dari keimanan, sedangkan akhlak yang buruk sebagai bukti lemahnya iman. Semakin sempurna akhlak seorang muslim, berarti semakin kuat imannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Kaum mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka. Dan yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya.” (HR. at-Tirmidzi no. 1162, Ahmad (II/250), 472, Ibnu Hibban (at-Ta’liqaatul Hisaan ‘alaa Shahiih Ibni Hibban no. 4164). Lafazh awalnya diriwayatkan juga oleh Abu Dawud no. 4682, al-Hakim (I/3), dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Mungkin ada yang bertanya, “Masak iya ada ikhwan yang sudah lama ngaji atau sudah baca kitab arab tapi akhlaknya buruk?”. Saya jawab “Insyaa Allah ada!”. Mengapa demikian? Karena barangkali ilmunya tidak dipahami dengan baik dan tidak berusaha mengamalkannya dalam kesehariannya. Wallahu a’lam. Sering kita dengar bahwa para ulama lebih dulu belajar adab dan akhlak yang baik sebelum mereka belajar fiqih, hukum-hukum dalam islam, dan lain-lain. Mengapa? Karena perkara baiknya akhlak ini sangatlah penting. Bayangkan saja jika seseorang itu mengaku telah lama mengajinya. kitabnya banyak bertumpuk-tumpuk, hapalannya pun juga banyak, dan telah mampu membaca kitab arab, namun ketika dia berbicara dengan temannya, bicaranya kasar dan menyinggung hati temannya. Adab-adabnya pun dia tak paham. Apa yang dimaksud adab-adab tidak paham? Wahai saudariku yang semoga Allah selalu menjadikan diri kita berada di atas sunnah, di dalam Islam itu terdapat banyak sekali adab-adab yang seharusnya kita pahami dengan baik. Sebagai contoh adab berbicara, adab menasehati, adab bergaul hingga adab buang hajat pun diajarkan di dalam Islam. Maka benarlah firman Allah Ta’ala atas sempurnanya agama Islam ini : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai islam itu menjadi agama bagimu.” (Qs. Al-Maa’idah : 3). Telah jelas dalam Islam bahwa agama Islam ini sudah sempurna, dan tidak perlu dikurangi ataupun ditambahi. Wallahu a’lam. Wahai saudariku yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’la, ketika nanti kita akan dilamar seorang ikhwan, maka lihatlah akhlaknya. Pelajari baik-baik dan jangan sampai kita tertipu oleh dzahirnya. Bisakah kita mempelajarinya? Insyaa Allah bisa. Kadangkala seorang ikhwan itu akan terlihat akhlaknya jika sedang bergaul dengan temannya. Dan kadangkala juga seorang ikhwan yang baik akhlaknya, lebih hati-hati terhadap wanita yang bukan mahramnya. Mengapa demikian? Karena dirinya begitu menjaga kehormatan dirinya untuk yang halal baginya. Dia tidak akan banyak bercanda terhadap wanita yang bukan mahramnya. Menjaga tutur katanya. Tegas dan tidak bertele-tele dalam berbicara terhadap wanita yang bukan mahramnya. Adakah di zaman kita sekarang ini? Wallahu a’lam. Mungkin pernah kita tau seorang ikhwan yang disebut ikhwan mumtaz (istimewa), dia banyak bicara dengan wanita yang bukan mahramnya. Banyak bercanda dan tidak pandai menjaga dirinya. Sekalipun seorang ikhwan itu telah menikah, ini bukan berarti aman dari fitnah. Tidakkah kita tahu bahwa setan itu mengalir dalam darah manusia secepat mungkin, dan kita tidak pernah tau kapan kita akan terfitnah. Salahkah jika kita lebih banyak belajar adab dan akhlak terlebih dahulu? Insyaa Allah tidak wahai saudariku. Bukankah di dalam Islam terdapat adab berbicara bagi wanita muslimah? Tidakkah di dalam Islam pula terdapat adab bertanya? Semua itu jika kita pelajari dan pahami baik-baik, Insyaa Allah kita bisa memiliki akhlak yang baik. Wallahu musta’aan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berdo’a dengan do’anya sebagai berikut : “Ya Allah, jauhkanlah dari diriku kemungkaran dalam akhlak, hawa nafsu, amal, dan penyakit.” (HR. Hakim (I/532) dan dishahihkan olehnya serta disepakati Adz-dzahabi) Dan juga do’a ini : “Ya Allah tunjukkanlah aku kepada akhlak mulia. Tidak ada yang bisa menunjukkan kepada kemuliaan itu kecuali Engkau. Dan singkirkanlah akhlak yang jelek dari diriku. Tidak ada yang bisa menyingkirkan kejelekan akhlak itu kecuali Engkau.” (HR. Muslim 771) Begitulah do’a Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam agar dirinya memiliki akhlak yang mulia. Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun berdo’a seperti itu, mengapa kita tidak sering berdo’a dengan do’a yang sama agar kita sebagai penuntut ilmu memiliki akhlak yang mulia. Wahai saudariku, mungkin dari kita merasa tidak terlalu penting dengan baiknya akhlak seorang ikhwan yang akan melamar kita, namun renungkanlah sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berikut ini : “Jika seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya melamar (puterimu) kepadamu, maka nikahkanlah dengannya. Jika tidak, fitnah dan kerusakan yang luas akan terjadi di muka bumi.” (HR. At-Tirmidzi (no. 1084), diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Ibnu Majah (no. 1967). Saudariku, perhatikanlah kata akhlak dalam hadits tersebut, maka telah jelas insyaa Allah bagi kita bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam secara tidak langsung menyuruh kita untuk mencari yang baik akhlaknya. Bukan hanya tinggi ilmunya dan baik pemahaman agamanya melainkan baik juga akhlaknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diutus untuk mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah Ta’ala saja dan memperbaiki akhlak manusia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. al-Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 273 (Shahiihul Adabil Mufrad no. 20), Ahmad (II/381, dan al-Hakim (II/613), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albaniy dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah no. 45) Akhlak yang baik merupakan bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan. Pemiliknya sangat dicintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan akhlak yang baik menjadi salah satu penyebab seseorang dapat masuk ke dalam Surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat, melainkan akhlak yang baik. Dan sesungguhnya, Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” (HR. At-Tirmidzi no. 2002 dan Ibnu Hibban (no. 1920, al-Mawaarid), dari Sahabat Abu Darda radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih. “ Lafazh ini milik at-Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shaiihah no. 876) Wahai saudariku yang semoga dimuliakan oleh Allah Ta’ala, pahamilah bahwasannya akhlak yang mulia seseorang akan memperoleh keutamaan yang lebih baik. Insyaa Allah. Tidakkah kita ingin menjadi orang yang paling dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam? Jawabannya tentu saja kita mau dan itulah yang kita inginkan. Wallahu musta’aan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dari kalian. Sedangkan orang yang paling aku benci dan majelisnya paling jauh dariku pada hari kiamat adalah orang yang banyak cakap, orang yang memaksa dirinya untuk berceloteh, dengan memfasihkan dan membesar-besarkannya untuk menyombongkan dan menunjukkan kelebihannya atas yang lainnya.” (HR. at-Tirmidzi dalam Sunannya : Al Birru/71, hadits (2018), 4/ 370). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk surga, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. Dan ketika ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk neraka, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Lidah dan kemaluan”. (HR. At-Tirmidzi no. 2004, al-Bukhari dalam al Adabul Mufrad no. 289, Shahiihul Adabil Mufrad no. 222, Ibnu Majah no. 4246, Ahmad (II/291, 392, 442), Ibnu Hibban no, 476, at-Ta’liiqaatul Hisaan ‘alaa Shahiih Ibni Hibban, al Hakim (IV/324), At-Tirmidzi berkata : “Hadits ini hasan shahih.” Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyuruh kita agar berakhlak yang mulia dan melarang dari akhlak yang hina. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah Maha Pemurah, menyukai kedermawanan dan akhlak yang mulia, serta membenci akhlak yang rendah (hina).” (HR. al-Hakim (I/48), dari Sahabat Sahl bin Sa’ad rahiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah no. 1378) Sungguh akhlak yang mulia itu meninggikan derajat seseorang di sisi Allah, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Sesungguhnya seorang Mukmin dengan akhlaknya yang baik, akan mencapai derajat orang yang shaum (puasa) di siang hari dan shalat di tengah malam.” (HR. Abu Dawud no. 4789, Ibnu Hibban no. 1927 dan al-Hakim (I/600, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi. Akhlak yang mulia itu dapat menambah umur dan menjadikan rumah makmur, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “…Akhlak yang baik dan bertetangga yang baik keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur.” (HR. Ahmad (VI/159), dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam firmanNya : “Dan sesungguhnya kamu benar-benar mempunyai akhlak yang agung. (Qs. Al-Qalam : 4) Hal ini sesuai dengan penuturan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. al-Bukhari no. 6203 dan Muslim no. 2150, 2310, dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Oleh sebab itu wahai saudariku, hendaknya kita teliti dalam memilih ikhwan yang akan menjadi suami kita. Mungkin secara dzahirnya ikhwan yang datang melamar kita adalah orang yang tinggi ilmu agamanya. Pandai berbicara dengan menggunakan bahasa arab dan telah mampu membaca kitab arab. Atau juga memiliki wajah yang rupawan dan lain sebagainya. Namun tak memiliki akhlak yang baik. Apakah seimbang? Insyaa Allah tidak wahai saudariku. Jika kita telah terbiasa membaca para kitab para ulama dan kisah-kisah sahabat di zaman dahulu, maka kita akan menemukan betapa mulianya akhlak mereka. Wallahu a’lam. Al Qurtubi rahimahullah berkata : “Akhlak adalah sifat-sifat seseorang, sehingga dia dapat berhubungan dengan orang lain. Akhlak ada yang terpuji dan ada yang tercela. Secara global makna akhlak yang terpuji adalah engkau berhias dengan akhlak yang terpuji ketika berhubungan dengan sesama, dimana engkau bersikap adil dengan sifat-sifat terpuji dan tidak lalim karenanya. Sedangkan secara rinci adalah memaafkan, berlapang dada, dermawan, sabar, menahan penderitaan, berkasih sayang, menutupi hajat-hajat orang lain, mencintai, bersikap lemah lembut dan sejenis itu. Sedangkan akhlak yang tercela adalah sifat-sifat yang berlawanan dengan semua itu”. (Fathul Bari : 1/456) Telah diriwayatkan dari Ibnu Mubarak radhiyallahu ‘anhu ketika menerangkan akhlak yang baik, dia berkata : “Wajah berseri-seri, mencurahkan kebaikan, dan menahan kejelekan.” (HR. at-Tirmidzi dalam Sunannya : Kitab Al-Birru/62), hadits (2005), 4/363. Ibnu Abi Dunya radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan dari Humaid bin Hilal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa : Aku memasuki kota Kuffah dan aku menuju ke majelis Rabi’ bin Khaitsam radhiyallahu ‘anhu, lalu berkata : “Wahai saudara bani Adi, kamu harus berakhlak mulia dan menjadi orang yang mengamalkannya serta dan menjadi orang yang mengamalkannya serta menyertainya”. Ketauhilah bahwa tidaklah seseorang berperangai dengan perangai yang mulia dan tidaklah dia menunjukkannya sehingga akhlak itu sangat dicintainya dan menjadikan yang lain cinta kepada ahlinya”. (Makarimul Ahlak : Hal 11-12) Said bin Ash radhiyallahu berkata : “Wahai anakku, kalau akhlak yang mulia sangat mudah dilakukan tentu orang yang sangat tercela telah melakukannya terlebih dahulu daripada kalian. Tetapi ia merupakan perkara yang sangat tidak disukai dan pahit, dan tidak ada yang bisa bersabar di atasnya kecuali orang yang telah mengenal keutamaannya dan mengharapkan pahalanya.” (Makarimul Akhlak : Hal 12) Fudhail bin Iyyadh radhiyallahu ‘anhu berkata : “Jika kamu bergaul, maka bergaulah dengan akhlak yang mulia. Sesungguhnya dia tidak menyeru kecuali kepada kebaikan dan dia menyertai dalam kesulitan. Orang yang berdosa lagi jelek akhlaknya yang menyertaiku lebih aku sukai daripada orang yang ahli membaca Al-Qur’an tapi jelek akhlaknya. Orang fasik jika memiliki akhlak yang baik, maka dia hidup dengan akalnya dan meringankan manusia serta mereka mencintainya. Sedangkan orang yang beribadah tapi berakhlak jelek, maka dia memberatkan manusia dan mereka membencinya”. (Makarimul Akhlak : Hal 12) Al Ashma’i rahimahullah berkata : “Tatkala kakekku Ali bin Al-Ashma’i akan wafat, maka dia mengumpulkan anak-anaknya, lalu dia berkata : “Hai anak-anakku, pergaulilah manusia dengan suatu pergaulan dimana tatkala kalian tidak ada, maka mereka rindu kepada kalian, dan tatkala kalian meninggal, maka mereka menangisi kalian.” (Makarimul Akhlak : no (12), hal : 3) Ibnul Qurriyah rahimahullah berkata : “Beradablah kalian, hingga jika kalian sebagai raja-raja maka kalian dimuliakan. Jika kalian sebagai orang-orang yang berkedudukan sederhana, maka kedudukan kalian diangkat ke derajat yang tinggi. Serta jika kalian sebagai orang-orang yang fakir, maka kalian dicukupi”. (Adabul Majelis : Hal 105) Wahai saudariku yang insyaa Allah dirahmati Allah, oleh karena itu mulai sekarang jika kita hendak dilamar oleh ikhwan, perhatikanlah akhlaknya. Tanyakan pada orang-orang yang dekat dengannya dan juga keluarganya mulai dari ibunya, ayahnya, hingga saudara-saudaranya yang lain. Jangan sampai merasa menyesal karena memilih ikhwan tersebut. Sebagian orang-orang yang bijak berkata : Sebaik-baik warisan yang diturunkan seorang bapak kepada anak adalah pujian yang baik, adab bermanfaat, dan saudara-saudara yang shalih. (Adabul Majelis hal : 106) Mungkin dari kita ada yang masih bertanya, bagaimana tanda-tanda akhlak yang baik? Sesungguhnya tanda-tanda akhlak yang baik terkumpul pada sifat-sifat yang banyak, diantaranya adalah seperti berikut ini : Sangat pemalu, tidak mengganggu orang lain, banyak berbuat baik, jujur lisannya, sedikit bicara, banyak beramal, sedikit berbuat kesalahan, tidak berlebihan, suka berbuat baik dan suka menyambung hubungan keluarga, menjaga kehormatan, sabar, senang bersyukur, bersikap ridha, penyantun, bersifat kasih sayang, menjaga harga diri, lemah lembut, tidak suka melaknat dan tidak suka memaki, tidak suka mengadu domba dan tidak suka menggunjing, tidak ceroboh, tidak suka memendam, tidak kikir, tidak suka mendengki, selalu bermuka ceria dan berseri-seri, cinta karena Allah, ridha karena Allah, dan marah karena Allah. Orang yang berakhlak baik akan tabah menerima gangguan orang lain, senantiasa mencari alasan untuk mereka jika mereka berbuat kesalahan, menghindarkan diri dari mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak pernah mencari-cari aib atau kekurangan mereka untuk disebarkan dan merugikan mereka. Sudah diketahui bersama bahwa orang yang suka mengadukan keburukan akhlak orang lain, justru tindakannya itu merupakan tanda yang jelas akan keburukan akhlak dirinya sendiri. Seorang mukmin dengan alasan apapun tidak mungkin memiliki akhlak yang jelek karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Ada dua perangai yang tidak akan berkumpul dalam seorang mukmin yaitu : sifat kikir dan akhlak yang jelek.” (Al-Adabul Mufrad : 1/107) Ketika asy-Sya’bi ditanya tentang akhlak yang baik, dia menjawab, “Suka berkorban, senang memberi, dan perangai yang baik.” (At-tawadhu’ Wal Khumul : 191) “Jika saja aku disuruh memilih semua keutamaan, pasti aku tidak akan memilih selain akhlak yang baik.” (Al-Adabul Mufrad : 1/276) Saudariku yang insyaa Allah saya cintai karena Allah, tanda-tanda akhlak yang baik begitu banyak bukan? Namun kita pun perlu mengenali sumber akhlak yang tercela atau rendah. Wallahu a’lam. Sumber utama dari akhlak tercela adalah sombong, kehinaan, dan kerendahan, sedangkan sumber utama dari akhlak terpuji adalah khusyu dan tingginya cita-cita. Congkak, sombong, perbuatan buruk, bangga terhadap diri sendiri, dengki, durhaka, takabur, zhalim, keras hati, bersikap lalim, berpaling dari kebenaran, enggan menerima nasehat, mementingkan diri sendiri, ambisi pada kedudukan, cinta kepada pengaruh dari jabatan, senang dipuji dengan sesuatu yang tidak dia perbuat, dan sifat-sifat yang sejenis adalah buah dari kesombongan. Adapun dusta, perbuatan yang hina, khianat, riya’, tindakan makar, tipu muslihat, rakus, sifat pengecut, kikir, lemah, malas, merendahkan diri kepada selain Allah, mengganti kebaikan dengan keburukan yang hina, dan yang sejenisnya, maka hal semacam itu termasuk kehinaan, kerendahan, kekerdilan jiwa. (Al-Fawa’id : 188) Wahai saudariku sesama muslim, sesungguhnya termasuk bentuk akhlak yang baik adalah menampakkan adab serta menampakkan kebaikan dan perbuatan yang islami. Imam Asy-Syafi’ pernah menceritakan satu kejadian di dalam hidupnya. Dia bertutur, “Aku tidak pernah berdusta sama sekali, aku tidak pernah bersumpah atas nama Allah, aku tidak pernah meninggalkan mandi di hari Jum’at, aku tidak pernah kenyang sejak enam belas tahun yang lalu kecuali rasa kenyang yang kurasakan sekarang ini.” (As-Siyar : 10/97) Saudariku, perhatikanlah perangai terpuji dan perilaku indah ini. Salim bin Junadah berkata, “Aku duduk di majelis Waki’ (Ibnul Jarrah) selama tujuh tahun. Selama itu, aku tidak pernah melihatnya meludah atau bermain kerikil, dan tidak pula duduk di tempat duduknya lalu bergerak-gerak. Aku juga tidak pernah melihatnya kecuali pasti menghadap ke arah kiblat dan aku tidak pernah pula melihatnya bersumpah atas nama Allah.” (Tadzkiratul Huffazh : 1/305) Kita mengagumi semua kebaikan yang terkumpul pada dirinya. Inilah ‘Umar bin Khattab yang berkata, “Sungguh, aku kagum kepada seorang pemuda yang suka beribadah, bersih bajunya, dan harum baunya.” (Tarikh ‘Umar : 219) Saudariku yang semoga Allah Ta’ala membantu kita dalam menjaga diri, saya hanya menasehati kepada diri saya dan juga kalian yang belum menikah, hendaknya lebih banyak belajar bagaimana cara memilih dan memilah yang terbaik dari yang baik. Janganlah kita terkecoh dengan tingginya ilmu agama seorang ikhwan, pandainya dalam membaca kitab arab atau hal-hal lain yang membuat seorang wanita jatuh luluh, terlena dengan hanya dzahirnya. Cukup banyak sekarang ini para ikhwan yang ilmunya subhanallah. Kita sebagai wanita dibuat geleng-geleng dan terkagum-kagum dengan ketinggian ilmu agamanya, namun ketika kita tau bagaimana akhlaknya, maka cukup jauh dari akhlak yang mulia. Wal iyyadzubillah. Wahai saudariku, insyaa Allah kita akan lebih sangat mengagumi seorang ikhwan yang bisa saja baru mengenal salafy dan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam belum terlalu lama yang mungkin bisa jadi baru setahun, atau mungkin belum ada setahun, namun ikhwan tersebut sudah terlihat berbeda jika dibandingkan sebelum mengenal sunnah-sunnah. Mulai dari cara bicaranya, takutnya jika melihat wanita karena disebabkan wanita tersebut bukan mahramanya, bagaimana tawadhu’nya dia akan ilmu yang dimilikinya, tidak maunya dia menjadi terkenal dikalangan teman-temannya, menjaga lisannya dengan banyak diam, dan juga akhlak-akhlak ang baik lainnya. Adakah yang demikian ini? Insyaa Allah ada. Bukan pula saya pribadi melarang mencari ikhwan yang serba punya, yaitu yang dimaksud punya ilmu agama yang bagus, punya tampan yang rupawan, punya kekayaan yang menumpuk, punya kepintaran dalam bidang dunia, dan punya-punya yang lainnya. Semua itu penting sebelum kita memilih ikhwan untuk menjadi suami kita, namun kita jangan lupakan akhlak yang dimilikinya. “Dunia tiada artinya kecuali agama dan tidak ada agama kecuali dengan akhlak yang mulia”. (Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam : 399) Dan saya juga menasehati diri saya dan saudariku sekalian, hendaknya kita para wanita sebelum memilih ikhwan mana yang paling baik akhlaknya, lebih baik banyak belajar memiliki akhlak yang baik pula. Wallahu musta’aan. Demikianlah nasehat saya kepada diri saya dan juga saudari yang lainnya. Semoga bermanfaat. Dan semoga kita selalu diberi taufiq oleh Allah Ta’ala dan diberi kekuatan untuk dapat meneladani akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Maraji’ : – ‘Isyratun Nisaa’ minal alif ilal yaa’, Penulis : Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq, Penerbit Daarul Wathan Riyadh Saudi Arabia. – Aisarul ‘Ibadat, Penulis : ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Penerbit : Dar al-Qasim, Riyadh. – Al Arba’una Haditsan Fil Akhlaq Ma’a Syarhiha, Penulis DR. Ahmad Mu’adz Haqqiy, Penerbit : Daru At thawiq Riyadh KSA. Ummu Abdillah Ayu Al-Faqir Ila ‘Afwi Rabbihi Ta’ala Di Istana Hijauku http://ummu-abdillah-ayu.herobo.com/index.php/munakahat-dan-keluarga/49-yang-dipilih-yang-terbaik-akhlaknya.html Segala puji bagi Allah, kita memujinya, memohon pertolongan dan ampunan kepadaNya kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan kejelekan amalan-amalan kita, barangsiapa yang Allah beri petunjuk, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya, dan barangsiapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan benar kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah hamba dan utusan Allah. يأيها الذين ءامنوا اتقوا الله حق تقاته، ولاتموتن إلاوأنتم مسلمون۝ “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Islam.” (QS. Ali ‘Imran : 102) يأيهاالناس اتقواربكم الذى خلقكم من نفس وحدة وخلق منهازوجها وبث منهمارجالاكثيرا ونساءۚ واتقوا الله الذى تساءلون به والأرحامۚ إن الله كان عليكم رقيبا۝ “Wahai manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya, dan daripadanya keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (menggunakan) NamaNya kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silahturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.” (QS. An-Nisa’ :1) يأيهاالذين ءامنوا اتقوا الله وقولوقولاسديدا۝ يصلح لكم أعملكم ويغفرلكم ذنوبكمۗ ومن يطع الله ورسوله، فقدفازفوزاعظيما۝ “Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah dengan perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu sosa-dosamu dan barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzaab : 70-71) Amma ba’du : فإن أصدق الحديث كتاب الله وخير الهدي هدي محمد صلى الله عليه وسلم، وشرالأمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة فيالنار. “Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan dalam agama, setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu ditempatnya di Neraka.” (1). Khutbah ini dinamakan khutbatul haajah, yaitu khutbah pembuka yang biasa dipergunakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam untuk mengawali setiap majelisnya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga mengajarkan khutbah ini kepada para Sahabatnya. Khutbah ini diriwayatkan dari enam Sahabat Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam . Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (I/392-393), Abu Dawud (no. 1097, 2118), an-Nasa-I (III/104-105), at-Tirmidzi (no. 1105), Ibnu Majah (no. 1892), al-Hakim (II/182-183), ath-Thayalisi (no. 336), Abu Ya’la (no. 5211), ad-Darimi (II/142) dan al-Baihaqi (III/214, VII/146), dari Sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Hadits ini shahih. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Agama itu nasehat! Kami bertanya : “Bagi siapa? Rasul menjawab : Bagi Allah, kitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin, dan bagi segenap kaum muslimin. (HR. Muslim (II/37 an-Nawawi) dan lainnya dari hadits Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhu) ify;”>Allah Ta’ala berfirman : “Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Qs. Al-‘Ashr : 1-3) Saudariku yang semoga selalu dalam perlindungan Allah Ta’ala. Pada kesempatan kali ini, saya akan menuliskan beberapa nasehat agar kita termasuk orang yang selalu mau merendahkan hati untuk menerima nasehat orang lain. Mungkin telah banyak nasehat dari saudari-saudari kita tentang cinta atau mungkin tentang bagaimana memilih calon suami. Telah banyak juga kitab para ulama yang membahas tentang tata cara nikah. Namun perlu diingat wahai saudariku sekalian, pernahkah kita berusaha memahami seorang laki-laki yang benar-benar mulia akhlaknya? Pernahkan kita merenung bahwa yang akan kita pilih nanti yang baiknya akhlaknya? Mungkin sebagian dari kita telah paham bagaimana akhlak yang baik itu, akan tetapi jarang dari kita yang dapat mengamalkannya. Wallahu a’lam. Wahai saudariku, taukah dirimu pertama kali orang akan melihat dzahir kita dan bukan apa yang ada di dalam diri kita. Cara bicara kita dan bagaimana adab kita. Seorang laki-laki yang mungkin sudah lama mengaji atau telah mampu baca kitab dengan ba hasa arab belum tentu laki-laki itu memiliki akhlak yang mulia. Padahal sesungguhnya antara aqidah dan akhlak terdapat hubungan yang sangat kuat. Karena akhlak yang baik sebagai bukti dari keimanan, sedangkan akhlak yang buruk sebagai bukti lemahnya iman. Semakin sempurna akhlak seorang muslim, berarti semakin kuat imannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Kaum mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang akhlaknya paling baik di antara mereka. Dan yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik kepada isteri-isterinya.” (HR. at-Tirmidzi no. 1162, Ahmad (II/250), 472, Ibnu Hibban (at-Ta’liqaatul Hisaan ‘alaa Shahiih Ibni Hibban no. 4164). Lafazh awalnya diriwayatkan juga oleh Abu Dawud no. 4682, al-Hakim (I/3), dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Mungkin ada yang bertanya, “Masak iya ada ikhwan yang sudah lama ngaji atau sudah baca kitab arab tapi akhlaknya buruk?”. Saya jawab “Insyaa Allah ada!”. Mengapa demikian? Karena barangkali ilmunya tidak dipahami dengan baik dan tidak berusaha mengamalkannya dalam kesehariannya. Wallahu a’lam. Sering kita dengar bahwa para ulama lebih dulu belajar adab dan akhlak yang baik sebelum mereka belajar fiqih, hukum-hukum dalam islam, dan lain-lain. Mengapa? Karena perkara baiknya akhlak ini sangatlah penting. Bayangkan saja jika seseorang itu mengaku telah lama mengajinya. kitabnya banyak bertumpuk-tumpuk, hapalannya pun juga banyak, dan telah mampu membaca kitab arab, namun ketika dia berbicara dengan temannya, bicaranya kasar dan menyinggung hati temannya. Adab-adabnya pun dia tak paham. Apa yang dimaksud adab-adab tidak paham? Wahai saudariku yang semoga Allah selalu menjadikan diri kita berada di atas sunnah, di dalam Islam itu terdapat banyak sekali adab-adab yang seharusnya kita pahami dengan baik. Sebagai contoh adab berbicara, adab menasehati, adab bergaul hingga adab buang hajat pun diajarkan di dalam Islam. Maka benarlah firman Allah Ta’ala atas sempurnanya agama Islam ini : “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai islam itu menjadi agama bagimu.” (Qs. Al-Maa’idah : 3). Telah jelas dalam Islam bahwa agama Islam ini sudah sempurna, dan tidak perlu dikurangi ataupun ditambahi. Wallahu a’lam. Wahai saudariku yang semoga dirahmati oleh Allah Ta’la, ketika nanti kita akan dilamar seorang ikhwan, maka lihatlah akhlaknya. Pelajari baik-baik dan jangan sampai kita tertipu oleh dzahirnya. Bisakah kita mempelajarinya? Insyaa Allah bisa. Kadangkala seorang ikhwan itu akan terlihat akhlaknya jika sedang bergaul dengan temannya. Dan kadangkala juga seorang ikhwan yang baik akhlaknya, lebih hati-hati terhadap wanita yang bukan mahramnya. Mengapa demikian? Karena dirinya begitu menjaga kehormatan dirinya untuk yang halal baginya. Dia tidak akan banyak bercanda terhadap wanita yang bukan mahramnya. Menjaga tutur katanya. Tegas dan tidak bertele-tele dalam berbicara terhadap wanita yang bukan mahramnya. Adakah di zaman kita sekarang ini? Wallahu a’lam. Mungkin pernah kita tau seorang ikhwan yang disebut ikhwan mumtaz (istimewa), dia banyak bicara dengan wanita yang bukan mahramnya. Banyak bercanda dan tidak pandai menjaga dirinya. Sekalipun seorang ikhwan itu telah menikah, ini bukan berarti aman dari fitnah. Tidakkah kita tahu bahwa setan itu mengalir dalam darah manusia secepat mungkin, dan kita tidak pernah tau kapan kita akan terfitnah. Salahkah jika kita lebih banyak belajar adab dan akhlak terlebih dahulu? Insyaa Allah tidak wahai saudariku. Bukankah di dalam Islam terdapat adab berbicara bagi wanita muslimah? Tidakkah di dalam Islam pula terdapat adab bertanya? Semua itu jika kita pelajari dan pahami baik-baik, Insyaa Allah kita bisa memiliki akhlak yang baik. Wallahu musta’aan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berdo’a dengan do’anya sebagai berikut : “Ya Allah, jauhkanlah dari diriku kemungkaran dalam akhlak, hawa nafsu, amal, dan penyakit.” (HR. Hakim (I/532) dan dishahihkan olehnya serta disepakati Adz-dzahabi) Dan juga do’a ini : “Ya Allah tunjukkanlah aku kepada akhlak mulia. Tidak ada yang bisa menunjukkan kepada kemuliaan itu kecuali Engkau. Dan singkirkanlah akhlak yang jelek dari diriku. Tidak ada yang bisa menyingkirkan kejelekan akhlak itu kecuali Engkau.” (HR. Muslim 771) Begitulah do’a Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam agar dirinya memiliki akhlak yang mulia. Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun berdo’a seperti itu, mengapa kita tidak sering berdo’a dengan do’a yang sama agar kita sebagai penuntut ilmu memiliki akhlak yang mulia. Wahai saudariku, mungkin dari kita merasa tidak terlalu penting dengan baiknya akhlak seorang ikhwan yang akan melamar kita, namun renungkanlah sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berikut ini : “Jika seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya melamar (puterimu) kepadamu, maka nikahkanlah dengannya. Jika tidak, fitnah dan kerusakan yang luas akan terjadi di muka bumi.” (HR. At-Tirmidzi (no. 1084), diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Ibnu Majah (no. 1967). Saudariku, perhatikanlah kata akhlak dalam hadits tersebut, maka telah jelas insyaa Allah bagi kita bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam secara tidak langsung menyuruh kita untuk mencari yang baik akhlaknya. Bukan hanya tinggi ilmunya dan baik pemahaman agamanya melainkan baik juga akhlaknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diutus untuk mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah Ta’ala saja dan memperbaiki akhlak manusia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. al-Bukhari dalam Adabul Mufrad no. 273 (Shahiihul Adabil Mufrad no. 20), Ahmad (II/381, dan al-Hakim (II/613), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albaniy dalam Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah no. 45) Akhlak yang baik merupakan bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan memiliki bobot yang berat dalam timbangan. Pemiliknya sangat dicintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan akhlak yang baik menjadi salah satu penyebab seseorang dapat masuk ke dalam Surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari Kiamat, melainkan akhlak yang baik. Dan sesungguhnya, Allah sangat membenci orang yang suka berbicara keji dan kotor.” (HR. At-Tirmidzi no. 2002 dan Ibnu Hibban (no. 1920, al-Mawaarid), dari Sahabat Abu Darda radhiyallahu ‘anhu. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih. “ Lafazh ini milik at-Tirmidzi, lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shaiihah no. 876) Wahai saudariku yang semoga dimuliakan oleh Allah Ta’ala, pahamilah bahwasannya akhlak yang mulia seseorang akan memperoleh keutamaan yang lebih baik. Insyaa Allah. Tidakkah kita ingin menjadi orang yang paling dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam? Jawabannya tentu saja kita mau dan itulah yang kita inginkan. Wallahu musta’aan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat majelisnya denganku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dari kalian. Sedangkan orang yang paling aku benci dan majelisnya paling jauh dariku pada hari kiamat adalah orang yang banyak cakap, orang yang memaksa dirinya untuk berceloteh, dengan memfasihkan dan membesar-besarkannya untuk menyombongkan dan menunjukkan kelebihannya atas yang lainnya.” (HR. at-Tirmidzi dalam Sunannya : Al Birru/71, hadits (2018), 4/ 370). Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk surga, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab : “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. Dan ketika ditanya tentang kebanyakan yang menyebabkan manusia masuk neraka, maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Lidah dan kemaluan”. (HR. At-Tirmidzi no. 2004, al-Bukhari dalam al Adabul Mufrad no. 289, Shahiihul Adabil Mufrad no. 222, Ibnu Majah no. 4246, Ahmad (II/291, 392, 442), Ibnu Hibban no, 476, at-Ta’liiqaatul Hisaan ‘alaa Shahiih Ibni Hibban, al Hakim (IV/324), At-Tirmidzi berkata : “Hadits ini hasan shahih.” Dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyuruh kita agar berakhlak yang mulia dan melarang dari akhlak yang hina. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Sesungguhnya Allah Maha Pemurah, menyukai kedermawanan dan akhlak yang mulia, serta membenci akhlak yang rendah (hina).” (HR. al-Hakim (I/48), dari Sahabat Sahl bin Sa’ad rahiyallahu ‘anhu. Dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah no. 1378) Sungguh akhlak yang mulia itu meninggikan derajat seseorang di sisi Allah, sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “Sesungguhnya seorang Mukmin dengan akhlaknya yang baik, akan mencapai derajat orang yang shaum (puasa) di siang hari dan shalat di tengah malam.” (HR. Abu Dawud no. 4789, Ibnu Hibban no. 1927 dan al-Hakim (I/600, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha. Dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi. Akhlak yang mulia itu dapat menambah umur dan menjadikan rumah makmur, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam : “…Akhlak yang baik dan bertetangga yang baik keduanya menjadikan rumah makmur dan menambah umur.” (HR. Ahmad (VI/159), dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. Allah Ta’ala telah menyebutkan dalam firmanNya : “Dan sesungguhnya kamu benar-benar mempunyai akhlak yang agung. (Qs. Al-Qalam : 4) Hal ini sesuai dengan penuturan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha : “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR. al-Bukhari no. 6203 dan Muslim no. 2150, 2310, dari Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Oleh sebab itu wahai saudariku, hendaknya kita teliti dalam memilih ikhwan yang akan menjadi suami kita. Mungkin secara dzahirnya ikhwan yang datang melamar kita adalah orang yang tinggi ilmu agamanya. Pandai berbicara dengan menggunakan bahasa arab dan telah mampu membaca kitab arab. Atau juga memiliki wajah yang rupawan dan lain sebagainya. Namun tak memiliki akhlak yang baik. Apakah seimbang? Insyaa Allah tidak wahai saudariku. Jika kita telah terbiasa membaca para kitab para ulama dan kisah-kisah sahabat di zaman dahulu, maka kita akan menemukan betapa mulianya akhlak mereka. Wallahu a’lam. Al Qurtubi rahimahullah berkata : “Akhlak adalah sifat-sifat seseorang, sehingga dia dapat berhubungan dengan orang lain. Akhlak ada yang terpuji dan ada yang tercela. Secara global makna akhlak yang terpuji adalah engkau berhias dengan akhlak yang terpuji ketika berhubungan dengan sesama, dimana engkau bersikap adil dengan sifat-sifat terpuji dan tidak lalim karenanya. Sedangkan secara rinci adalah memaafkan, berlapang dada, dermawan, sabar, menahan penderitaan, berkasih sayang, menutupi hajat-hajat orang lain, mencintai, bersikap lemah lembut dan sejenis itu. Sedangkan akhlak yang tercela adalah sifat-sifat yang berlawanan dengan semua itu”. (Fathul Bari : 1/456) Telah diriwayatkan dari Ibnu Mubarak radhiyallahu ‘anhu ketika menerangkan akhlak yang baik, dia berkata : “Wajah berseri-seri, mencurahkan kebaikan, dan menahan kejelekan.” (HR. at-Tirmidzi dalam Sunannya : Kitab Al-Birru/62), hadits (2005), 4/363. Ibnu Abi Dunya radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan dari Humaid bin Hilal radhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa : Aku memasuki kota Kuffah dan aku menuju ke majelis Rabi’ bin Khaitsam radhiyallahu ‘anhu, lalu berkata : “Wahai saudara bani Adi, kamu harus berakhlak mulia dan menjadi orang yang mengamalkannya serta dan menjadi orang yang mengamalkannya serta menyertainya”. Ketauhilah bahwa tidaklah seseorang berperangai dengan perangai yang mulia dan tidaklah dia menunjukkannya sehingga akhlak itu sangat dicintainya dan menjadikan yang lain cinta kepada ahlinya”. (Makarimul Ahlak : Hal 11-12) Said bin Ash radhiyallahu berkata : “Wahai anakku, kalau akhlak yang mulia sangat mudah dilakukan tentu orang yang sangat tercela telah melakukannya terlebih dahulu daripada kalian. Tetapi ia merupakan perkara yang sangat tidak disukai dan pahit, dan tidak ada yang bisa bersabar di atasnya kecuali orang yang telah mengenal keutamaannya dan mengharapkan pahalanya.” (Makarimul Akhlak : Hal 12) Fudhail bin Iyyadh radhiyallahu ‘anhu berkata : “Jika kamu bergaul, maka bergaulah dengan akhlak yang mulia. Sesungguhnya dia tidak menyeru kecuali kepada kebaikan dan dia menyertai dalam kesulitan. Orang yang berdosa lagi jelek akhlaknya yang menyertaiku lebih aku sukai daripada orang yang ahli membaca Al-Qur’an tapi jelek akhlaknya. Orang fasik jika memiliki akhlak yang baik, maka dia hidup dengan akalnya dan meringankan manusia serta mereka mencintainya. Sedangkan orang yang beribadah tapi berakhlak jelek, maka dia memberatkan manusia dan mereka membencinya”. (Makarimul Akhlak : Hal 12) Al Ashma’i rahimahullah berkata : “Tatkala kakekku Ali bin Al-Ashma’i akan wafat, maka dia mengumpulkan anak-anaknya, lalu dia berkata : “Hai anak-anakku, pergaulilah manusia dengan suatu pergaulan dimana tatkala kalian tidak ada, maka mereka rindu kepada kalian, dan tatkala kalian meninggal, maka mereka menangisi kalian.” (Makarimul Akhlak : no (12), hal : 3) Ibnul Qurriyah rahimahullah berkata : “Beradablah kalian, hingga jika kalian sebagai raja-raja maka kalian dimuliakan. Jika kalian sebagai orang-orang yang berkedudukan sederhana, maka kedudukan kalian diangkat ke derajat yang tinggi. Serta jika kalian sebagai orang-orang yang fakir, maka kalian dicukupi”. (Adabul Majelis : Hal 105) Wahai saudariku yang insyaa Allah dirahmati Allah, oleh karena itu mulai sekarang jika kita hendak dilamar oleh ikhwan, perhatikanlah akhlaknya. Tanyakan pada orang-orang yang dekat dengannya dan juga keluarganya mulai dari ibunya, ayahnya, hingga saudara-saudaranya yang lain. Jangan sampai merasa menyesal karena memilih ikhwan tersebut. Sebagian orang-orang yang bijak berkata : Sebaik-baik warisan yang diturunkan seorang bapak kepada anak adalah pujian yang baik, adab bermanfaat, dan saudara-saudara yang shalih. (Adabul Majelis hal : 106) Mungkin dari kita ada yang masih bertanya, bagaimana tanda-tanda akhlak yang baik? Sesungguhnya tanda-tanda akhlak yang baik terkumpul pada sifat-sifat yang banyak, diantaranya adalah seperti berikut ini : Sangat pemalu, tidak mengganggu orang lain, banyak berbuat baik, jujur lisannya, sedikit bicara, banyak beramal, sedikit berbuat kesalahan, tidak berlebihan, suka berbuat baik dan suka menyambung hubungan keluarga, menjaga kehormatan, sabar, senang bersyukur, bersikap ridha, penyantun, bersifat kasih sayang, menjaga harga diri, lemah lembut, tidak suka melaknat dan tidak suka memaki, tidak suka mengadu domba dan tidak suka menggunjing, tidak ceroboh, tidak suka memendam, tidak kikir, tidak suka mendengki, selalu bermuka ceria dan berseri-seri, cinta karena Allah, ridha karena Allah, dan marah karena Allah. Orang yang berakhlak baik akan tabah menerima gangguan orang lain, senantiasa mencari alasan untuk mereka jika mereka berbuat kesalahan, menghindarkan diri dari mencari-cari kesalahan orang lain, dan tidak pernah mencari-cari aib atau kekurangan mereka untuk disebarkan dan merugikan mereka. Sudah diketahui bersama bahwa orang yang suka mengadukan keburukan akhlak orang lain, justru tindakannya itu merupakan tanda yang jelas akan keburukan akhlak dirinya sendiri. Seorang mukmin dengan alasan apapun tidak mungkin memiliki akhlak yang jelek karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda : “Ada dua perangai yang tidak akan berkumpul dalam seorang mukmin yaitu : sifat kikir dan akhlak yang jelek.” (Al-Adabul Mufrad : 1/107) Ketika asy-Sya’bi ditanya tentang akhlak yang baik, dia menjawab, “Suka berkorban, senang memberi, dan perangai yang baik.” (At-tawadhu’ Wal Khumul : 191) “Jika saja aku disuruh memilih semua keutamaan, pasti aku tidak akan memilih selain akhlak yang baik.” (Al-Adabul Mufrad : 1/276) Saudariku yang insyaa Allah saya cintai karena Allah, tanda-tanda akhlak yang baik begitu banyak bukan? Namun kita pun perlu mengenali sumber akhlak yang tercela atau rendah. Wallahu a’lam. Sumber utama dari akhlak tercela adalah sombong, kehinaan, dan kerendahan, sedangkan sumber utama dari akhlak terpuji adalah khusyu dan tingginya cita-cita. Congkak, sombong, perbuatan buruk, bangga terhadap diri sendiri, dengki, durhaka, takabur, zhalim, keras hati, bersikap lalim, berpaling dari kebenaran, enggan menerima nasehat, mementingkan diri sendiri, ambisi pada kedudukan, cinta kepada pengaruh dari jabatan, senang dipuji dengan sesuatu yang tidak dia perbuat, dan sifat-sifat yang sejenis adalah buah dari kesombongan. Adapun dusta, perbuatan yang hina, khianat, riya’, tindakan makar, tipu muslihat, rakus, sifat pengecut, kikir, lemah, malas, merendahkan diri kepada selain Allah, mengganti kebaikan dengan keburukan yang hina, dan yang sejenisnya, maka hal semacam itu termasuk kehinaan, kerendahan, kekerdilan jiwa. (Al-Fawa’id : 188) Wahai saudariku sesama muslim, sesungguhnya termasuk bentuk akhlak yang baik adalah menampakkan adab serta menampakkan kebaikan dan perbuatan yang islami. Imam Asy-Syafi’ pernah menceritakan satu kejadian di dalam hidupnya. Dia bertutur, “Aku tidak pernah berdusta sama sekali, aku tidak pernah bersumpah atas nama Allah, aku tidak pernah meninggalkan mandi di hari Jum’at, aku tidak pernah kenyang sejak enam belas tahun yang lalu kecuali rasa kenyang yang kurasakan sekarang ini.” (As-Siyar : 10/97) Saudariku, perhatikanlah perangai terpuji dan perilaku indah ini. Salim bin Junadah berkata, “Aku duduk di majelis Waki’ (Ibnul Jarrah) selama tujuh tahun. Selama itu, aku tidak pernah melihatnya meludah atau bermain kerikil, dan tidak pula duduk di tempat duduknya lalu bergerak-gerak. Aku juga tidak pernah melihatnya kecuali pasti menghadap ke arah kiblat dan aku tidak pernah pula melihatnya bersumpah atas nama Allah.” (Tadzkiratul Huffazh : 1/305) Kita mengagumi semua kebaikan yang terkumpul pada dirinya. Inilah ‘Umar bin Khattab yang berkata, “Sungguh, aku kagum kepada seorang pemuda yang suka beribadah, bersih bajunya, dan harum baunya.” (Tarikh ‘Umar : 219) Saudariku yang semoga Allah Ta’ala membantu kita dalam menjaga diri, saya hanya menasehati kepada diri saya dan juga kalian yang belum menikah, hendaknya lebih banyak belajar bagaimana cara memilih dan memilah yang terbaik dari yang baik. Janganlah kita terkecoh dengan tingginya ilmu agama seorang ikhwan, pandainya dalam membaca kitab arab atau hal-hal lain yang membuat seorang wanita jatuh luluh, terlena dengan hanya dzahirnya. Cukup banyak sekarang ini para ikhwan yang ilmunya subhanallah. Kita sebagai wanita dibuat geleng-geleng dan terkagum-kagum dengan ketinggian ilmu agamanya, namun ketika kita tau bagaimana akhlaknya, maka cukup jauh dari akhlak yang mulia. Wal iyyadzubillah. Wahai saudariku, insyaa Allah kita akan lebih sangat mengagumi seorang ikhwan yang bisa saja baru mengenal salafy dan sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam belum terlalu lama yang mungkin bisa jadi baru setahun, atau mungkin belum ada setahun, namun ikhwan tersebut sudah terlihat berbeda jika dibandingkan sebelum mengenal sunnah-sunnah. Mulai dari cara bicaranya, takutnya jika melihat wanita karena disebabkan wanita tersebut bukan mahramanya, bagaimana tawadhu’nya dia akan ilmu yang dimilikinya, tidak maunya dia menjadi terkenal dikalangan teman-temannya, menjaga lisannya dengan banyak diam, dan juga akhlak-akhlak ang baik lainnya. Adakah yang demikian ini? Insyaa Allah ada. Bukan pula saya pribadi melarang mencari ikhwan yang serba punya, yaitu yang dimaksud punya ilmu agama yang bagus, punya tampan yang rupawan, punya kekayaan yang menumpuk, punya kepintaran dalam bidang dunia, dan punya-punya yang lainnya. Semua itu penting sebelum kita memilih ikhwan untuk menjadi suami kita, namun kita jangan lupakan akhlak yang dimilikinya. “Dunia tiada artinya kecuali agama dan tidak ada agama kecuali dengan akhlak yang mulia”. (Jami’ul ‘Ulum Wal Hikam : 399) Dan saya juga menasehati diri saya dan saudariku sekalian, hendaknya kita para wanita sebelum memilih ikhwan mana yang paling baik akhlaknya, lebih baik banyak belajar memiliki akhlak yang baik pula. Wallahu musta’aan. Demikianlah nasehat saya kepada diri saya dan juga saudari yang lainnya. Semoga bermanfaat. Dan semoga kita selalu diberi taufiq oleh Allah Ta’ala dan diberi kekuatan untuk dapat meneladani akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Maraji’ : – ‘Isyratun Nisaa’ minal alif ilal yaa’, Penulis : Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq, Penerbit Daarul Wathan Riyadh Saudi Arabia. – Aisarul ‘Ibadat, Penulis : ‘Abdul Malik bin Muhammad al-Qasim, Penerbit : Dar al-Qasim, Riyadh. – Al Arba’una Haditsan Fil Akhlaq Ma’a Syarhiha, Penulis DR. Ahmad Mu’adz Haqqiy, Penerbit : Daru At thawiq Riyadh KSA. Ummu Abdillah Ayu Al-Faqir Ila ‘Afwi Rabbihi Ta’ala

Di Istana Hijauku

hand in handhttp://ummu-abdillah-ayu.herobo.com/index.php/munakahat-dan-keluarga/49-yang-dipilih-yang-terbaik-akhlaknya.html

Advertisements

~ by Unais on June 20, 2010.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: